Bahasabisnis 101 – GPM (Gross Profit Margin)
Jualan ramai tapi uang habis hanya untuk belanja stok? Atau omzet terlihat besar di laporan, tapi setelah membayar biaya produksi, sisa uangnya terasa sangat tipis? Di sinilah pentingnya memahami GPM (Gross Profit Margin). Pada edisi #bahasabisnis101 kali ini, kita kan mengupas tuntas apa itu GPM dan bagaimana cara menghitungnya.
GPM (Gross Profit Margin) adalah rasio yang digunakan untuk mengukur seberapa besar keuntungan kotor yang diperoleh dari total penjualan setelah dikurangi dengan COGS (Cost of Goods Sold) atau HPP (Harga Pokok Penjualan).
Lalu bagaimana cara menghitung GPM?
GPM = (Gross Profit ÷ Revenue) × 100%
Keterangan:
Gross Profit (Laba Kotor) = Revenue – COGS
Revenue (Penjualan) = total pendapatan dari penjualan produk
COGS (Harga Pokok Penjualan): Biaya langsung untuk memproduksi barang/jasa.
Contoh Kasus
Bisnis minuman milik Bu Intan memiliki data sebagai berikut dalam satu bulan:
- Total Penjualan (Revenue) = Rp 80.000.000,00
- Harga Pokok Penjualan (HPP) atau COGS = Rp 50.000.000,00
Hitunglah GPM bisnis Bu Sari!
Diketahui:
Revenue = Rp 80.000.000,00
COGS = Rp 50.000.000,00
Langkah 1: Hitung Gross Profit
Gross Profit = Revenue – COGS
Gross Profit = Rp 80.000.000 – Rp 50.000.000
Gross Profit = Rp 30.000.000,-
Langkah 2: Hitung GPM
GPM = Gross Profit ÷ Revenue
GPM = Rp 30.000.000 ÷ Rp 80.000.000
GPM = 0,375 atau 37,5%
Apa Artinya?
Bisnis Bu Intan memiliki margin keuntungan kotor sebesar 37,5%. Dengan kata lain, dari setiap Rp 100 penjualan, bisnis Bu Intan mendapatkan Rp 37,5 keuntungan kotor setelah menutup biaya produksi. Sisa inilah yang nantinya akan digunakan untuk membayar biaya operasional dan menjadi laba bersih.
GPM adalah pondasi dalam memahami profit bisnis. Sebelum bicara laba bersih, pastikan dulu laba kotor kamu aman. Karena bisnis yang terlihat ramai belum tentu menguntungkan, jika margin kotornya terlalu tipis. Sobat Bahasabisnis.id, berapa GPM bisnis kamu saat ini?
Salam Bahasa Bisnis.






Leave a Comment