- December 6, 2022
- Official BahasaBisnis.id
- 0 Comments
- UMKM
Bank Dalam Bentuk Toko
Mungkin banyak dari kita yang menyangka bahwa bank adalah tempat dimana ada mesin ATMnya, Teller dan banyak hal yang kita bayangkan tentang bank. Namun, tanpa kita sadari ada model bisnis unik yang membuat bank dalam bentuk toko. Salah satu brand yang menggunakan model bisnis tersebut adalah Starbucks. Kalau kita mendengar nama Starbucks mungkin kita akan berpikir bahwa itu adalah tempat untuk berkumpul dengan teman sambil meminum segelas kopi yang kekinian di kalangan anak muda. Starbucks juga dikenal dengan franchise kopi terbesar di dunia dengan puluhan ribu cabang yang tersebar di dunia dan 60% pendapatannya terdapat dari penjualan minumannya. Namun, dari konsep bisnisnya, Starbucks sering disebut dengan sebuah bank.
“Kok bisa sebuah kedai kopi dianggap sebagai bank?”, ini dia hal unik yang terdapat dalam Starbucks. Starbucks menerapkan konsep perbankan di dalam penjualan kopinya. Jadi bagaimana konsep dari Starbucks? Sebelum kita mengetahui konsepnya, kita perlu mengetahui sejarah dari Starbucks. Pada awal pendiriannya, Starbucks merupakan toko kecil yang berdiri di Pasar Raya Pike Place, Seattle. Awalnya toko ini bukan menjual kopi, tapi ia menjual biji kopi, teh, bahkan rempah-rempah dari berbagai negara. Pada akhirnya mereka pun fokus untuk menjalankan bisnis menjadi kedai kopi. Sejak saat itu, Starbucks berkembang menjadi puluhan ribu cabang di berbagai daerah.
Lantas, bagaimana ia bisa disebut menjadi bank? Hal ini bermula ketika krisis keuangan di Amerika tahun 2008, dimana harga properti menurun dan juga Starbucks sendiri juga terkena dampaknya dengan menutup 600 tokonya dan di tahun 2009, mereka harus menutup 300 toko lagi. Oleh karena itu, mereka harus melakukan PHK sebagai pengurangan dana. Disaat itu Howard Schultz awalnya mengundurkan diri, namun ditarik kembali menjadi CEO. Jadi, di tengah krisis tersebut, Howard melakukan reformasi radikal yang fundamental mengubah konsep bisnis dari Starbucks ini. Inovasinya yang dilakukan oleh Starbucks adalah membuat program royalti berupa Starbucks Gift Card. Starbucks Gift Card juga terkoneksi dengan aplikasi dari Starbucks. Buat kita yang langganan di Starbucks pastinya suka menggunakan kartu ini. Dengan program ini, pelanggan yang membeli Starbucks akan mendapatkan poin yang bisa ditukarkan dengan beberapa hadiah. Tidak Cuma itu saja, pelanggan Starbucks juga mendeposit uang mereka ke kartu Starbucks melalui aplikasinya yang pastinya bisa dipakai untuk pembelian berikutnya. Konsepnya mirip dengan cara kita top up di e-money kita.

Image Source : shutterstock.com
Namun, ada perbedaannya nih. Bedanya adalah di dompet digital kita bisa menggunakan saldo untuk membeli di berbagai macam toko, sementara di kartu Starbucks hanya untuk pembelian Starbucks. Lantas, apa untungnya buat pelanggan Starbucks yang menggunakan kartu tersebut? Nah dengan program royalti Starbucks, pelanggan bisa mendapatkan poin untuk ditukarkan dengan hadiah, seperti diskon atau gratis kue dan kopi. Mungkin kita berpikir, ini hanya bentuk promosi biasa, namun kita harus tahu bahwa Starbucks memiliki pelanggan setia dan aplikasinya menjadi aplikasi paling popular di kalangan aplikasi restoran lainnya. Dengan popularitas yang besar, Starbucks dapat melakukan hal yang restoran lain tidak dapat melakukannya.
Namun, kita pasti berpikir akan rugi untuk mendeposit uang ke dalam kartu Starbucks, tapi di Amerika, Starbucks menjadi konsumsi sehari-hari untuk masyarakatnya. Di tahun 2011, pembelian Starbucks 25% dari deposit tersebut dan di tahun 2021, pengguna dari aplikasi tersebut sudah mencapai 24,2 juta orang yang terhubung dengan aplikasi tersebut. Oleh karena itu, untuk 2021, 40% penjualan Starbucks melakukan kartu tersebut. Nilai top upnya juga tidak sedikit mencapai 10 miliar dolar atau setara dengan Rp.145 triliun. Dengan jumlah deposit seperti itu, operasi dari Starbucks bisa dikatakan layak menjadi sebuah bank. Jadi, bank beroperasi dengan cara menarik dana dari masyarakat lewat tabungan dan pinjaman buat biaya operasi. Sementara operasi dari Starbucks juga mirip dengan bank, dimana dana dari pelanggan yang di deposit adalah dana tabungan dari bank, namun bedanya Starbucks tidak perlu membayar biaya bunga ke pelanggan. Tanpa disadari, pelanggan Starbucks menyediakan dana pinjaman yang bebas bunga dengan nilai miliaran dolar Amerika yang bisa diinvestasikan untuk biaya operasi maupun ekspansi bisnis. Kalau bank biasa menawarkan bunga dari nasabah, sementara Starbucks tidak perlu membayar bunga dari top up pelanggannya. Dananya juga pastinya bakal dihabiskan untuk pembelian produk Starbucks. Dengan begitu, Starbucks tidak memerlukan dana cadangan seperti bank untuk penarikan deposito.
Image Source : julo.co.id
Lantas seberapa besar Starbucks ketika mereka menjadi sebuah bank? Sejak tahun 2016, saldo stored value card liability selalu mencapai angka 1 miliar dolar dan di tahun 2022, sudah mencapai 1,7 miliar dolar atau setara dengan 8 triliun rupiah. Dengan hal ini, ketika Starbucks masuk ke dalam golongan bank, 13 bank terbesar di Amerika dari sisi aset. Itu cuma dari saldo pelanggan yang belum terpakai, sehingga Starbucks bisa mendapatkan 170 juta per tahun secara cuma-cuma dari saldo yang tidak terpakai. Kebanyakan kasusnya karena kartu dari pelanggan hilang, atau pelanggan lupa memiliki saldo di kartunya. Jadi, Starbucks bisa mendapatkan keuntungan yang besar tanpa harus membayar bunga untuk pelanggannya. Hal ini dijadikan ide yang jenius di berbagai brand di dunia. Tidak Cuma itu saja, Starbucks juga bisa fleksibel dengan bisnisnya karena ia tidak perlu mengandalkan penjualan secara langsung dan pinjaman bank. Bahkan mereka bisa mendapatkan pendapatan pasif dari bertumbuhnya pelanggan baru. Namun, untuk saat ini, Starbucks belum secara resmi mau masuk ke dalam dunia keuangan, tapi kalau mereka mau, mereka sudah mempunyai segala ekspansi yang dibutuhkan.
Nah itulah salah satu model bisnis yang unik menyerupai bank. Tak disangka yang awalnya adalah kedai kopi, sekarang bisa menyerupai sebuah bank. Menurut kalian, apakah Starbucks layak untuk menjadi sebuah bank?
Salam Bahasa Bisnis
Kezia Gabby






Leave a Comment