- August 23, 2019
- Edhy Surbakty
- 0 Comments
- Akuntansi, Keuangan, Start-up, UMKM
Mencatat Asal-asalan, Siap-siap Perusahaannya Bangkrut!
Pasti banyak yang bilang, ah ini sih lebay. Tidak mungkin sampe segitunya.
Saya tidak bercanda Kawan-kawan.
Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Karena salah satu ciri utama bisnis yang baik adalah selalu membuat keputusan dengan pertimbangan yang berdasar dan terukur.
Lalu apabila dasar pertimbangan kita dalam pengambilan keputusan salah, asal-asalan, dan tidak bisa diandalkan, kemungkinan besar keputusan yang kita ambil membawa perusahaan ke dalam lembah kesuraman J
Saya tahu, banyak sekali yang tidak terlalu ambil pusing dalam mencatat dan menganalisa pelaporan keuangan. Mereka berkata, “Ah, yang penting ada penjualan”, “ah yang penting di tangan kita ada uang cash” dan sebagainya.
Yang mereka tidak tahu adalah, banyak perusahaan bangkrut karena menyepelekan hal tersebut dan membuat kesalahan dalam pengambilan keputusan. Dalam jangka panjang maupun jangka pendek, hal tersebut merugikan mereka.
Biar tidak bertele-tele, kita kasih contoh nyata yah.
Saya beri satu dari banyak pemahaman yang harus dimiliki untuk dapat membuat keputusan keuangan dengan benar, yaitu:
HARUS BISA MEMBEDAKAN MANA BIAYA YANG KITA PERTIMBANGKAN UNTUK PENENTUAN HARGA, MANA YANG TIDAK.
Banyak sekali yang kebingungan di daerah ini. Oleh karena itu, saya akan menggunakan bahasa yang umum dan simple agar mudah dipahami intinya.
Contoh kasus kebingungan:
Misalnya Mang Joni akan membuka usaha jus buah. Agar simple, kita anggap saja dia hanya akan menjual buah mangga di depan rumahnya.

Mang Joni membeli buah mangga di pasar induk 10 buah seharga Rp 3.000 per buah, jadi total pembelian buah manga adalah Rp 30.000.
Lalu dia juga membeli mangkok seharga Rp 10.000 untuk mewadahi buah manga yang akan dia pajang di depan rumahnya.
Untuk mudahnya, anggap saja dia tidak mengeluarkan biaya lain.
Lalu Mang Joni menghitung biaya modalnya untuk menentukan harga jual mangganya. Dia menambahkan biaya membeli buah Rp 30.000 dengan biaya membeli mangkok Rp 10.000 sebagai biaya dasar mangga. Dia mendapatkan Rp 40.000 sebagai “modal dasar mangga”
Karena ada 10 buah mangga, dia membagi Rp 40.000 dengan 10 buah manga, sehingga dia menganggap biaya dasar mangga/biaya modal mangga/harga pokok penjualan mangga adalah Rp 4.000 per buah. Sehingga dia menjual ke pelanggan RP 4.500. Dia berharap bisa meraih untung RP 500 per mangga.
Ternyata apa?
Dagangannya tidak laku.
Tetangganya lebih memilih untuk membeli ke Mang Dono. Dia menjual mangga seharga Rp 3.500 per mangga.
Mang Joni tidak mengerti. Dia tahu Mang Dono membeli mangga dari pasar induk yang sama dengannya, maka harganya pasti sama. Mang Dono juga membeli mangkok yang sama untuk mewadahi buahnya. Mang Joni bertanya-tanya, kok bisa biaya modalnya saja sudah RP 4.000 per buah, kok bisa Mang Dono menjual Rp 3.500. Rugi dong dia.
Menurut Kawan-kawan siapa yang salah? Mang Joni atau Mang Dono?
Sekarang kita intip dulu kok bisa Mang Dono memberi harga segitu.
Mang Dono membeli buah mangga 10 biji seharga Rp 30.000 dan mangkok Rp 10.000. Sama dengan Mang Joni.
Hanya saja ketika akan menentukan harga jual, Mang Jono dibantu oleh anaknya yang sekolah di SMK Akuntansi. Katanya, yang lebih relevan untuk dijadikan dasar pengambilan harga adalah harga buah yang seharga Rp 30.000 per 10 buah atau RP 3.000 per buah.
Sedangkan harga mangkok yang RP 10.000 tidak diperhitungkan saat itu karena tidak berhubungan langsung dengan produknya, yakni buah. Dan walau buahnya sudah terjual, mangkoknya tidak ikut terjual dan masih bisa digunakan untuk jangka waktu yang lama kan? Anaknya memberi istilah untuk mangkok bisa dipakai dalam jangka waktu lama untuk membantu menghasilkan penghasilan, yakni peralatan. Katanya, itu harta Mang Dono, jadi tidak usah dijadikan dalam perhitungan harga modal mangga tersebut.
Jadi, “harga modal” dari buah adalah hanya harga belinya, yakni RP 30.000 per 10 buah, atau Rp 3.000 per buah mangga.
Oleh karena itulah Mang Dono memberi harga RP 3.500 per buah mangga, karena menurut hitungan dia, dia masih untung Rp 500 per buah.
Lalu siapa yang paling tepat dalam menentukan harga?
Dalam kasus ini, Mang Dono lah yang tepat.
Kita memang harus membedakan mana yang kita masukan sebagai pertimbangan penentuan harga, mana yang tidak.
Semoga kisah tadi menambah pemahaman Anda dan dapat membantu Anda dan Perusahaan Anda.
Kita harus jeli melihat banyak faktor, biaya mana yang terlibat langsung ke barang jualan kita, mana yang bisa dipake dalam jangka panjang, dan sebagainya.
Mengurus jualan mangga saja lumayan ribet kan yah? Apalagi perusahaan Anda.
Salah persepsi, bisa-bisa salah ambil keputusan.
Dan kami sudah merangkumnya ke dalam satu pelatihan yang akan membahas semua yang harus anda tahu mengenai akuntansi dan keuangan dalam pengambilan keputusan anda.
Dan kami memang menyiapkannya untuk orang-orang dengan background non-accounting. Kami memeras semua ilmu dari para professional di bidang akuntansi dan keuangan dan menyajikannya dalam workshop ini.
Kami akan menggunakan bahasa sehari-hari dan sederhana dalam menjelaskan, namun akan membahas secara mendalam dan tentu akan diberitahu istilah akuntansi dan keuangan yang tepat.
Sebagai contoh, cerita Mang Joni tadi sebetulnya sedang membahas istilah dan perbedaan dari konsep “asset, expense. cost, variable cost, matching concept, dan sebagainya”, tapi dibahas dengan simple bukan.
Karena kami memang professional yang berpengalaman di bidang ini.
Dengan Anda memahami hal-hal yang akan kami bahas, sangat baik untuk kemajuan karir personal maupun kemajuan perusahaan Anda.
Jika merasa artikel ini sangat berguna, bisa di like & share dan tag rekan kerja anda yang membutuhkan pengetahuan ini.
Salam Bahasa Bisnis.






Leave a Comment