Perkembangan Usaha Kopi di Gunungkidul
Perkembangan usaha kopi di Indonesia berlangsung cukup pesat selama beberapa waktu terakhir. Ngopi tidak lagi sekedar aktivitas, namun sudah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup.

Kopi tidak lagi minuman untuk menghilangkan rasa kantuk karena kandungan kafein, tapi juga menjadi teman setia saat nongkrong dengan teman atau sambil kerja. Peningkatan konsumsi kopi ini diikuti juga dengan kebiasaan nongkrong di kedai kopi, sehingga perkembangan usaha kedai kopi dan café semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Perkembangan usaha kopi di Yogyakarta nampak terasa perkembangannya ketika nama Klinik Kopi muncul tahun 2015 dan diikuti Space Roastery pada tahun 2016. Sejak saat itu, berkembangan usaha kopi semakin pesat apalagi setelah bermunculan film, acara TV, akun media sosial, dan channel Youtube yang membahas café dan kopi. Paska pandemi usaha kopi dalam bentuk creative space, co-working space, dan tempat nongkrong bukannya menurun, malah semakin banyak.

Tidak hanya di Yogyakarta, hal ini juga terjadi di Gunungkidul yang merupakan bagian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Kabupaten ini terkenal dengan objek wisatanya terutama pantai. Kunjungan wisatawan ini juga mendukung perkembangan usaha kopi di Gunungkidul. Meski tidak sebesar Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta, namun perkembangan bisnis dan usaha kopi di Gunungkidul juga terus berkembang. Perkembangan usaha kopi di Gunungkidul dimulai tahun 2016. Diawali dengan munculnya tiga kedai kopi yaitu Stiff Coffee, Angkringan Sastra, dan Katamata Coffee Roastery.

Pasca munculnya tiga kedai tersebut, bermunculan beberapa usaha kopi lainnya namun pada saat itu tidak semeriah di Yogyakarta yang pertumbuhan usaha kopi sangat luar biasa. Meski tidak semeriah di Yogyakarta, namun pada kurun waktu 3 tahun, cukup banyak kedai kopi bermunculan di Gunungkidul. Sayangnya pandemi membuat beberapa usaha kopi tutup. Akan tetapi paska pandemi, perkembangan usaha kopi di Gunungkidul semakin pesat dengan peningkatan jumlah pengusaha kopi mencapai 2 kali lipat terutama di tahun 2021 dan 2022.

Sebelum pandemi, usaha kopi tidak berkembang pesat layaknya kota besar seperti Yogyakarta karena kondisi masyarakat dan budaya di Gunungkidul. Kondisi masyarakat yang didominasi oleh warga lokal dan budaya ngeteh yang lebih dominan menjadikan Gunungkidul memiliki pasar yang tidak begitu luas untuk usaha kopi. Pada saat itu, masyarakat lebih familiar dengan ngeteh dan angkringan. Namun dengan adanya pandemi, banyak para karyawan dan mahasiswa MFH dan mengerjakan tugas serta bekerja dari rumah. Tidak jarang untuk menghemat pengeluaran, karyawan dan mahasiswa perantau dari Gunungkidul lebih memilih pulang kampung dan bekerja serta mengerjakan tugasnya dari Gunungkidul. Pada saat itu pasar kopi di Gunungkidul mulai meningkat. Ditambah lagi banyak perantau yang di PHK dan lebih memilih buka usaha di kampung halaman, salah satunya usaha kopi. Dari sinilah kemudian usaha kopi di Gunungkidul mengalami perkembangan yang cukup pesat paska pandemi.
Tidak hanya pada bagian hilir usaha kopi, pada bagian hulu juga berkembang. Pada tahun 2021 mulai banyak bermunculan petani kopi di Gunungkidul. Yang awalnya menanam kopi hanya untuk pakan ternak dan konsumsi sendiri, mulai bermunculan petani kopi yang memperluas penanaman kopinya yang awalnya hanya menjadi tanaman pagar menjadi kebun-kebun kecil di pekarangan rumah. Bahkan ada yang menanam dalam lahan yang luas dan dikolaborasikan dengan wisata religi seperti yang terjadi di Gunung Gambar. Hal ini juga mendapat perhatian masyarakat dengan adanya program penanaman tanaman kopi oleh pemerintah daerah selama 2 tahun terakhir di beberapa lokasi seperti Ngawen, Ponjong, Nglipar, dan Semanu.

Pada tahun 2017 beberapa pengusaha dan pecinta kopi membentuk komunitas sebagai wadah bagi pengusaha dan pecinta kopi di Gunungkidul untuk berkarya. Komunitas tersebut diberi nama ‘Gunungkidul Indie Coffee Community’. Tujuan dari komunitas ini adalah melakukan edukasi kopi kepada masyakarat sekaligus mengangkat kembali kopi asli Gunungkidul yang pernah jaya pada tahun 1900-an. Beberapa kegiatan rutin antara lain pertemuan bulanan, diskusi dan membuat sharing session mengenai kopi, fun brewing, kegiatan kumpul-kumpul seperti ngopi di-X (di kali) dimana para pegiat usaha kopi ngumpul bareng di tepi ‘kali’ (sungai) sambil membahas tentang kopi dan perkembangannya. Komunitas ini bertahan hingga saat ini dengan jumlah anggota yang terus meningkat. Komunitas ini yang awalnya didominasi oleh para pengusaha kopi, saat ini sudah banyak anggota yang merupakan home brewer atau penyeduh kopi rumahan.

Komunitas Gunungkidul Indie Coffee Community bekerja sama dengan Bahasabisnis.id sebagai pengelola Rumah BUMN Gunungkidul dalam menjalankan coffee shop sekaligus co-working space di kantor Rumah BUMN Gunungkidul. Hal ini menjadi bentuk sebuah sinergi antara komunitas dengan Rumah BUMN yang mendampingi para pelaku UMKM. Selain menjadi co-working space dengan coffee shop, Rumah BUMN Gunungkidul juga menjadi basecamp sekaligus sekretariat komunitas kopi sehingga Rumah BUMN tidak sekedar coffee shop, namun juga tempat berkumpul dan berkarya bagi anggota komunitas.

Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa kelas kopi dan diskusi mengenai usaha kopi yang dilaksanakan oleh komunitas baik secara internal maupun yang mengundang masyarakat umum. Selain itu, Rumah BUMN Gunungkidul bekerja sama dengan Katamata Coffee Roastery melaksanakan pelatihan dasar tentang kopi bertajuk ‘Coffee Basic Training’ yang silaksanakan selama beberapa hari di Rumah BUMN Gunungkidul dan diikuti oleh 30 peserta dari Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kegiatan ini sebagai salah satu usaha komunitas dan para pelaku usaha kopi dalam bersinergi dengan stakeholder lain dalam mengedukasi masyarakat mengenai usaha kopi dan dunia perkopian di Indonesia.
Salam,
Bahasa Bisnis
Penulis: Edi Dwi Atmaja., M.Si.
Editor: Shafira Destiana






Leave a Comment