- June 21, 2023
- Edhy Surbakty
- 0 Comments
- bahasabisnis.id, Indonesia Timur, inkubasi, social impact, UMKM
Susah-susah membuat program, ternyata tidak berdampak!
Tulisan oleh: Edhy Surbakty
“Saya ingin membuat bisnis yang berdampak”
“Program yang kami buat ini berdampak positif bagi sekitar”
“Tidak sekedar profit, tapi perusahaan kami berdampak”
Beberapa tahun yang lalu, ketika mendengar kata-kata seperti itu, kening saya berkerut. Skeptis.
Akhir-akhir ini Anda pasti lebih sering mendengar kata-kata seperti itu. Khususnya dari generasi yang lebih muda.
Ternyata hal tersebut sesuai dengan perkembangan data terakhir, orang yang berkeinginan organisasi / bisnisnya berdampak sosial semakin bertambah.
Menurut riset dari British Council dan United Nations Economic and Social Commission for Asia and The Pacific (UNESCAP) pada tahun 2018, usaha sosial (usaha yang berdampak sosial selain meraih keuntungan) terus meningkat seiring waktu. Terjadi kenaikan jumlah social enterprise sebesar 70% dalam lima tahun kebelakang.
Artinya memang terjadi pergeseran nilai dalam praktek menjalankan organisasi, secara umum lebih banyak orang yang ingin bisnisnya berdampak selain menguntungkan.
Tapi bagaimana caranya kita tahu bahwa organisasi kita benar-benar berdampak sosial?
Jangan-jangan, sudah susah-susah membuat program, ternyata tidak berdampak.
Atau lebih parah, hanya berdampak dalam kertas namun tidak terasa manfaat nyatanya.
Itu adalah beberapa pertanyaan saya beberapa tahun yang lalu setiap mendengar orang bercerita “usaha yang berdampak”
Semoga setelah membaca sharing saya ini, Anda bisa mendapatkan jawabannya seperti saya.
—————

Pertanyaan pertama,
Sebenernya, apakah dampak dari suatu program itu bisa diukur?
Jawabannya adalah bisa. Walau terkadang prosesnya sulit, namun bisa jika memang ada keinginan dari pengurus organisasinya.
Pertanyaan berikutnya adalah buat apa sih dampak ini susah-susah diukur?
Kan yang penting program terlaksana, ada yang terbantu, lalu tidak ada kesalahanan administrasi. Udah beres kan ya?
Tentunya salah satunya adalah supaya beneficiaries-nya bisa terbantu sesuai dengan kebutuhan mereka. Karena ini berdasarkan kebutuhan di lapangan, tentunya beda program akan berbeda standar pengukuran, tingkat detailnya, aspek yang diukur, dan cara pengukuran.
Lalu buat apa sih kita susah-susah menghitung dampak?
Dikutip dari social value, UK sebagian manfaat menghitung dampak adalah:
- Alat pengambilan keputusan untuk membuat skala prioritas program mana yang akan dilakukan.
- Pertimbangan dalam pengalokasian sumber daya yang komprehensif
- Evaluasi dan perbaikan program yang berkesinambungan
- Adanya akuntabilitas bagi pemangku kepentingan yang terlibat.
Karena kita sudah tahu pentingnya pengukuran dampak ini, mari kita masuk ke bagian berikutnya, yaitu melihat bagaimana caranya mengukur dampak.
Pengukuran Dampak Program yang Dilakukan.
Sebetulnya banyak sekali metode yang bisa dipakai untuk menghitung dampak dari program, setidaknya ada 30+ metode. Namun kali ini kita akan membahas salah satu metode yang paling umum yang dijadikan rujukan oleh banyak sekali organisasi.
Social Return of Investment (SROI) adalah metode yang dikembangkan oleh organisasi Robert Enterprise Development Fund (REDF) yang dimaksudkan agar program-program sosial yang mereka lakukan bisa menjadi lebih akuntabel dalam hal pertanggungjawabannya.
Terkadang suka ada yang salah sangka dan menyamakan SROI dengan salah satu matriks dalam menghitung nilai balik dari investasi dalam dunia bisnis, yakni ROI (Return of Investment).
Walau secara konsep ada kesamaan antara ROI dan SROI, namun ada hal mendasar yang menjadi pembeda utama.
SROI dan ROI sama-sama memperlihatkan hasil dari program / project yang kita lakukan.
ROI pada umumnya digunakan untuk mengukur tingkat profitabilitas perusahaan, sehingga indikator utamanya pada umumnya adalah indikator keuangan. Rasio ini membantu memperlihatkan bagaimana pengembalian ekonomi dari suatu investasi atau program tertentu.
Sedangkan SROI secara umum pendekatannya lebih komprehensif dan tidak hanya mengukur indikator keuangan saja. Setidaknya, SROI memperhitungkan dan mengukur hasil dan dampak suatu program dari tiga area utama, yaitu area keuangan, area sosial, dan area lingkungan.
Mengapa SROI dirasa sangat mengakomodir kebutuhan dalam mengukur akuntabilitas program sosial adalah karena metode pengukuran ini tidak hanya berfokus kepada manfaat ekonomi dari beneficiaries, namun juga mempertimbangkan aspek sosial dan lingkungan.
Dalam pengukurannya, SROI melibatkan aspek kuantitatif dan kualitatif sehingga akan sangat membantu dalam keseluruhan program, mulai dari perencanaan, penentuan prioritas sumber daya yang akan dialokasikan, sampai dengan evaluasi.
Adanya beberapa sudut pandang dalam pengukuran, akan sangat membantu pelaksana program agar fokus ke hal yang memang bermanfaat untuk beneficiaries. Karena apabila tidak diperlengkapi dengan indikator dampak yang tepat dan komprehensif, akan ada kecenderungan hanya fokus ke dampak ekonomi saja.
Lalu bagaimana sih cara menghitung SROI?
Saya tidak akan menjawab terlalu detail di tulisan kali ini, tetapi secara umum cara mengitungnya adalah sebagai berikut:
SROI = Present Value of Impact / Present Value of Impact
Secara sederhananya, kita membandingkan input apa saja yang kita investasikan kepada program tersebut, lalu dibandingkan dengan dampak yang dihasilkan dari program tersebut.
Input yang diukur menyeluruh dari pendanaan, waktu, dan sumber daya lain yang dimanfaatkan dalam proyek tersebut. Sedanglan impact yang didapatkan harus diukur menjadi tiga area utama, yakni dampak sosial, dampak ekonomi, dan dampak lingkungan.
Misalnya setelah mengukur suatu program dengan persamaan tersebut didapatkan rasio 4: 1, maka proyek/program/fasilitas yang dibangun memberikan manfaat 4 kali dari investasi yang dilakukan. Sederhananya setiap Rp 1 yang diinvestasikan akan menghasilkan dampak sebesar Rp 4.
Angka tersebut tentu merupakan representasi dari manfaat yang diberikan dari berbagai aspek, bukan hanya aspek keuangan saja.
Kami beri contoh nyata dari program yang sudah kami lakukan.

Bahasabisnis.id bekerjasama dengan PLN mengelola Rumah BUMN Gunungkidul. Kami mempunyai tujuan mengembangkan kewirausahaan di Gunungkidul, khususnya menyasar UMKM agar naik kelas.
Tentunya salah satu yang ingin kami pastikan dari awal adalah bahwa program-program pengembangan perekonomian daerah kami benar-benar bisa memberikan dampak yang positif bagi masyarakat dan lingkungan sekitar.
Dimulai dari proses perencanaan, operasionalisasi, sampai dengan evaluasi kami berusaha menjawab tantangan beneficiaries’ kami seusuai dengan kebutuhannya dan dari berbagai aspek yang saling mendukung.
Hasilnya, dari penilaian pihak independen didapatkan bahwa program yang kami kelola mempunyai SROI yang positif dengan kategori A.
Artinya dana yang diberikan memang terasa manfaatnya oleh beneficiaries dan menggunakan resources dengan efektif dan efisien.
Namun pembelajaran harus dilakukan terus-menerus, saat ini pun kami terus belajar agar bisa meningkatkan terus dampak yang dihasilkan dari program-program yang kami jalankan.
Dari kasus tersebut dapat terlihat pengukuran SROI dapat memperlihatkan dampak dari investasi / program tersebut apakah sudah sesuai dengan ekspektasi di awal program.
Jebakan Pengukuran Dampak di Lapangan.

Idealnya proses di lapangan berjalan lancar seperti contoh yang terjadi di atas.
Sayangnya tidak selamanya bisa selamanya seperti itu, di lapangan seringkali banyak yang berjalan tidak sesuai dengan perencanaan.
Salah satu yang berbahaya adalah ketika kita dalam membuat program pendampingan UMKM, namun hanya fokus kepada angka-angka tanpa melihat keadaan di lapangan. Terkadang apa yang harus kita lakukan berbeda dengan standar angka-angka tersebut.
Misalnya salah satu target kita adalah dengan menghubungkan UMKM binaan kita dengan 10 toko retail untuk meningkatkan penjualan.
Namun terkadang yang terjadi di lapangan ada beberapa UMKM yang memang belum siap melakukan penjualan dalam jumlah besar karena ada kendala internal (misalnya produk yang belum baik, perijinan yang belum diurus, atau kapasitas produksi yang belum memenuhi kuota minimal).
Apabila hal tersebut terjadi, daripada kita memaksakan UMKM tersebut untuk langsung masuk ke toko retail demi “memenuhi target kuantitatif kita” agar mendapatkan SROI yang besar nilainya, lebih baik kita mundur sejenak ke belakang dan membantu beneficiaries kita menyelesaikan permasalahan internalnya terlebih dahulu.
Mungkin hal tersebut tidak terlihat dalam form penilaian, tetapi hal tersebut adalah yang paling tepat dilakukan dari sudut pandang pemberdayaan beneficiaries kami.
Oleh karena itu kami di bahasabisnis.id lebih kami mementingkan real impact walau mungkin secara angka tidak terlalu ideal secara standar pengukuran. Kita harus berempati terhadap semua pihak yang berhubungan dengan kita.
Ketaatan terhadap pengukuran yang terstruktur harus diimbangi oleh empati dalam melaksanakan program di lapangan.
Rasa empati adalah kunci. Dan rasa tersebut muncul karena ketulusan interaksi dan komunikasi terbuka yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat.
Pengukuran penting, tetapi semua itu harus berdasarkan pada empati dan kepentingan beneficiaries sebagai dasar yang utama.
Jangan sampai kita mengukur segalanya tetapi kita melupakan hal yang paling mendasar dan penting.
Jangan sampai juga kita merasa paling mengetahui kebutuhan beneficiaries kita dan tidak melakukan pengukuran atas dampak yang paling dibutuhkan beneficiaries.
Jangan sampai segala susah payah usaha kita membuat program, pada akhirnya malah mengeluh “susah-susah membuat program, ternyata tidak berdampak!”
Salam berdampak,
Edhy Surbakty
PS: Kalau ingin melihat pembelajaran saya dalam berproses menghasilkan program yang (semoga saja) berdampak, bisa mengikuti di laman bahasabisnis.id






Leave a Comment