- January 11, 2023
- Official BahasaBisnis.id
- 0 Comments
- Marketing
The Power of Branding
Pastinya kita sering memperhatikan orang-orang yang melakukan bisnisnya misalnya dalam hal bisnis dagang, biasanya mereka akan berusaha menjual barang dagangannya dengan berbagai alasan agar calon pembeli tertarik dengan produknya. Salah satu contohnya dari harga yang murah, kualitas yang bagus, hingga memberikan alasan bahwa produk mereka pernah digunakan oleh orang terkenal. Namun, apakah mereka yang memberikan alasan tersebut adalah produk yang paling laku di pasar?
Steve Jobs pernah mengatakan bahwa ia terinspirasi dengan cara marketing salah satu brand sepatu dan pakaian olahraga, NIKE. NIKE merupakan salah satu pasar yang merajai sepatu dan pakaian olahraga dengan nilai brand sebesar 36,8 miliar dolar, namun kita jarang banget mendengar NIKE mengatakan bahwa produk mereka ada produk yang memiliki kualitas paling bagus. Justru NIKE membuat branding “Just Do It” atau ”Find Your Greatness” yang membuat mereka terkenal dan berkembang sangat kuat dengan asosiasinya terhadap karakter yang positif. Dengan kekuatan brand, NIKE tidak perlu untuk mengatakan produknya adalah yang terbaik, karena mereka mengetahui bahwa konsumen membeli produk bukan berdasarkan pemikiran yang rasional melainkan didasarkan keputusan emosional. Kebanyakan konsumen yang membeli NIKE, karena brand NIKE sendiri memiliki asosiasi yang sangat kuat dengan hal yang disukai, seperti karakter atau atlet yang dikagumi.
Selain NIKE, ada juga salah satu produk minuman yang menggunakan branding dalam pemasarannya, contohnya adalah Coca Cola dengan nilai brand sebesar 59,2 miliar dolar. Mungkin jarang kita melihat iklan Coca Cola yang mengatakan bahwa menyebutkan khasiat dan kandungannya serta mengatakan bahwa minuman tersebut adalah minuman bersoda terenak dan paling menyegarkan. Dalam hal itu, ada kisah menarik mengenai sejarah persaingan Coca Cola dan Pepsi. Pada saat itu, mereka melakukan analisis mengenai minuman yang terenak dan masyarakat memilih Pepsi. Oleh karena itu, pihak manajemen Coca Cola berusaha keras untuk membuat formula baru. Berdasarkan hasil analisis Coca Cola, mereka berhasil membuat formula rasa baru yang terbukti secara blind test. Produk tersebut dinamakan dengan The New Coke. Namun, walaupun memiliki rasa yang lebih enak, banyak konsumen yang melakukan protes keras dan mengembalikan rasa Coca Cola yang original. Kenapa bisa seperti itu?
Dr. Terry Wu pernah berkata bahwa konsumen membeli produk karena keputusan emosional terhadap Coca Cola. Rasa Coca Cola yang original ternyata sudah melekat di memori konsumennya sejak lama. Bukan hanya sebatas di lidah, namun pada pengalaman emosional yang terbangun di pikiran konsumennya selama bertahun-tahun. Nah, inilah yang merupakan asosiasi pada Coca Cola, seperti rasa kebersamaan, keceriaan dan kesegaran.
Image Source : w3-lab.com
Hal seperti NIKE dan Coca Cola yang menginspirasi Steve Jobs dalam merintis Apple. Dalam era Steve Jobs, Apple yang merupakan perusahaan teknologi justru relatif jarang menampilkan iklan dengan keunggulan produknya atau membandingkan dengan produk pesaing. Apple justru fokus kepada brandingnya, sehingga saat ini Apple lebih sering dikatakan sebagai lifestyle yang elegan, stylish, dan memiliki teknologi terbaru.
Masih banyak lagi produk dari brand tertentu yang mengingatkan konsumennya terhadap ciri khas dari produknya. Sekarang buat kita yang sedang merintis usaha, pasti akan berpikir bahwa hal tersebut akan berlaku untuk brand besar dan untuk usaha kecil yang penting fokus jualan saja. Sebenarnya, semuanya berawal dari kecil terlebih dahulu. Mungkin banyak yang kurang tahu bahwa Eiger adalah salah satu brand buatan Indonesia yang dimulai dari produk rumahan kecil dan bermodal dua mesin jahit di Bandung. Masih banyak lagi produk lokal yang bermulai dari hal kecil dahulu. Nah, untuk kita yang sekarang sedang mengembangkan branding, kita perlu membuat asosiasi kuat untuk produk kita. Hal tersebut bisa kita sampaikan ke karyawan kita dan kemasan produk kita hingga hal itu bisa melekat kuat di dalam pengalaman emosional konsumen.
Salam Bahasa Bisnis,
Kezia Gabby






Leave a Comment